Kamis, 14 Januari 2016

BAB 13 TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS


Masalah lain yang juga perlu diperhatikan bagi tiap perusahaan selain masalah etika bisnis adalah mengenai tanggung jawab sosial. Griffin dan Ebert (2002) menyatakan, tanggung jawab sosial adalah usaha suatu bisnis untuk menyeimbangkan komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungannya, termasuk konsumen, bisnis lain/pesaing, karyawan dan investor. Sedangkan Bone dan Kurtz (2000) menyatakan, tanggung jawab sosial merupakan penerimaan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan, dan kesejahteraan sosial sebagai nilai sepadan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial lebih berkaitan dengan cara suatu bisnis bertindak terhadap kelompok dan pribadi lainnya dalam lingkungan sosialnya. Pada kenyataannya tanggung jawab sosial merupakan suatu usaha untuk mengimbangi komitmen yang berbeda. Misalnya, untuk bertindak secara bertanggung jawab terhadap investor, perusahaan perlu memaksimalkan profitnya. Namun, perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk menawarkan produk yang aman dan memuaskan konsumennya sebagai suatu komitmen yang dapat menaikkan biaya produksi atau menurunkan profitnya.

Secara keseluruhan tanggung jawab sosial mencerminkan etika perorangan yang diterapkan oleh perusahaan terutama manajemen puncaknya, walau tidak menutup kemungkinan tanggung jawab sosial dapat di dorong oleh lembaga pemerintahan, konsumen, investor dan oleh perilaku perusahaan lain/pesaing. Namun demikian, banyak perusahaan yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya terhadap stakeholder-nya (individu atau kelompok sangat terkait langsung terhadap kinerja perusahaan).

Konsumen. Bisnis bertanggung jawab pada konsumennya dengan menjaga kejujuran dan keterbukaannya. Mereka juga mencoba menetapkan harga yang wajar, garansi, memenuhi komitmen, dan menjaga kualitas produk yang mereka jual.

Karyawan. Bisnis bertanggung jawab sosial di dalam kesepakatan mereka dengan mempekerjakan karyawan dengan wajar, membuat karyawan menjadi bagian dari tim, dan menghargai martabat dan kebutuhan manusiawinya.

Investor. Untuk menjaga tanggung jawab sosial terhadap investor, manajer harus mengikuti prosedur akuntansi yang benar, menyediakan informasi yang tepat pada pemegang saham mengenai kinerja keuangan, dan mengelola organisasi untuk melindungi hak pemegang saham dan investasi.

Pemasok. Hubungan dengan pemasok harus dikelola dengan baik. Banyak perusahaan kini menyadari pentingnya kerja sama saling menguntungkan dengan pemasok sehingga mereka melakukan kontrak pembelian dengan negosiasi harga.

Benturan Dengan Kepentingan Masyarakat

Di dalam menjalankan tugasnya memproduksi barang atau jasa untuk disajikan kepada konsumen tidak jarang terjadi konflik kepentingan masyarakat umum dengan perusahaan. Bentrokan kepentingan ini sering terjadi terutama dalam hal timbulnya polusi oleh perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Polusi ini dapat berupa polusi udara, limbah, suara, dan bahkan polusi mental kejiwaan.

Sebagai contoh dari hal polusi mental kejiwaan dapat ditujukan dari adanya larangan pemerintah terhadap penyiaran iklan atau advertensi di TVRI sejak tahun 1980-an. Tindakan pemerintah itu merupakan penyelesaian konflik yang terjadi antara bisnisman yang ingin menayangkan iklannya lewat TV dengan kepentingan mental kejiwaan masyarakat yang merasa sangat terganggu oleh siaran iklan di TVRI yang sangat mendorong pola konsumtif serta penggunaan obat-obatan yang kurang tepat dan lain sebagainnya.

Tanggung jawab sosial suatu bisnis juga tercermin dari dituntutnya ganti rugi yang cukup besar oleh masyarakat sekitar pabrik yang menjadi korban atas meledaknya tangki nuklir dari suatu pabrik Gas UNION CARBITE di Bopal, India, pada tahun 1986. Anjuran Bapak Presiden Soeharto dalam tahun 1990 kepada para konglomerat Indonesia yang telah menikmati lebih banyak hasil-hasil pembangunan untuk membagikan sebagian sahamnya kepada Koperasi, adalah juga merupakan pencerminan dari penjabaran tanggung jawab sosial suatu bisnis.

Dari uraian di atas dapatlah kita tangkap bahwa tanggung jawab sosial suatu bisnis, menjadi suatu topic yang cukup menonjol. Bisnisman dituntut untuk lebih banyak memperhatikan aspek-aspek sosial dan menerapkan etika bisnis secara jujur. Konflik kepentingan bisnis dengan masyarakat akan selalu muncul dan kadang sulit untuk menyelesaikannya. Apabila konflik mencapai jalan buntu maka biasanya masyarakat akan menggunakan tangan pemerintah sebagai penengah. Hal itu yang akan melatarbelakangi ketentuan pemerintah untuk mewajibkan pengusaha yang akan mendirikan pabrik harus mendapatkan Izin HO (Hinder Orgonasie) agar dapat dicegah adanya konflik dikemudian hari.

Area Tanggung Jawab Sosial

Pada saat mendefinisikan permasalahan atau rasa tanggung jawab sosial, suatu perusahaan akan menghadapi 4 hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

     1.    Tanggung jawab ke depan terhadap lingkungannya

Dengan meminimalkan polusi udara yang disebabkan oleh produksi perusahaannya, mencakup polusi udara, misalnya dengan menggunakan penghisap zat-zat beracun pada asap yang dikeluarkan dari produksi, polusi air dengan membuat penampungan limbah yang menyerap zat-zat berbahaya sebelum dialirkan ke aliran sungai, dan polusi tanah dengan meminimalkan sampah yang dikeluarkan dengan menggunakan bahan-bahan yang dapat di daur ulang.

    2.   Tanggung jawab ke depan terhadap konsumennya

Dengan menyediakan produk yang berkualitas dengan harga yang sesuai. Konsumen memiliki hak untuk memperoleh produk yang aman, memperoleh informasi mengenai produk yang digunakan, hak untuk didengarkan dan hak untuk memilih apa yang hendak dibeli. Tanggung jawab perusahaan terhadap konsumennya juga termasuk dengan memperhatikan etika dalam beriklan, antara lain dengan tidak membuat janji-janji tentang sebuah produk yang tidak ditepati oleh perusahaan.

     3.    Tanggung jawab ke depan terhadap karyawannya

Dengan melakukan berbagai aktivitas, seperti rekrutmen, pelatihan, promosi dan kompensasi sesuai dengan hak-hak yang harus diperoleh karyawan.

     4.    Tanggung jawab ke depan terhadap investornya

Dengan memberikan laporan keuangan dengan jujur dan sesuai keadaan, tidak memberikan informasi kepada investor-investor tertentu saja, dan memberikan laporan keuangan sesuai dengan aturan dalam laporan keuangan yang berlaku.

Pendekatan-Pendekatan Terhadap Tanggung Jawab Sosial

Terdapat 4 tahapan yang perusahaan dapat ambil dalam memenuhi kewajiban tanggung jawab sosialnya dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi. Dapat diketahui empat macam pendekatan terhadap tanggung jawab sosial adalah sebagai berikut :

     1.   Obstructionist stance 

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial, meliputi melakukan seminimal mungkin dan mungkin meliputi usaha untuk mengingkari atau menutupi pelanggaran.

     2.   Defensive stance

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan hanya memenuhi kebutuhan legal minimum dalam komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

     3.   Accommodative stance

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan, jika secara khusus diminta, melebihi kebutuhan legal minimum dalam komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

     4.   Proactive stance

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan secara aktif mencari peluang untuk berkontribusi dalam kebaikan kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

Mengelola Program Tanggung Jawab Sosial

Membuat sebuah perusahaan bertanggung jawab sosial secara penuh pada pendekatan tanggung jawab di atas memerlukan program yang diorganisasikan. Secara umum, manajer harus melakukan hal-hal berikut ini :

a. Tanggung jawab sosial harus dimulai dari tingkatan manajemen puncak, karena tanpa dukungan dari manajemen puncak tidak akan program yang berjalan sukses.
b.  Sebuah komite atau panitia yang terdiri dari manajer-manajer puncak harus mengembangkan sebuah rencana yang merinci tingkat dukungan manajemen.
c. Seorang eksekutif atau seorang manajer perusahaan harus bertanggung jawab dalam pengimplementasian program yang telah direncanakan.
d. Terakhir perusahaan harus melakukan audit sosial, yaitu analisis sistematis mengenai penggunaan dana dan pencapaiannya terhadap tujuan tanggung jawab sosialnya.

Dorongan Tanggung Jawab Sosial

       Klasifikasi aspek pendorong tanggung jawab social dalam menunaikan tanggung jawab social, perusahaan dituntut untuk mengindahkan etika bisnis. Hal-hal pendorong dilaksanakannya etika bisnis :

1.   Dorongan dari pihak luar, dari lingkungan masyarakat
2.   Dorongan dari dalam bisnis itu sendiri, sisi humanism pembisnis yang melibatkan rasa, karsa dan karya

Manfaat penerapan manajemen orientasi kemanusiaan :

1.   Peningkatan moral kerja karyawan yang berakibat membaiknya semangat dan produktivitas kerja.
2.   Adanya partisipasi dengan bawahan dan adanya timbul rasa ikut memiliki sehingga tercipta kondisi manajemen partisipasif
3.  Penurunan absen karyawan yang disebabkan kenyamanan kerja sebagai hasil hubungan antara kerja yang menyenangkan dan baik
4.    Peningkatan mutu produksi yang diadakan oleh terbentuknya rasa percaya diri karyawan
5. Kepercayaan kepada konsumen yang dapat meningkatkan dan merupakan dasar bagi perkembangan selanjutnya dari perusahaan

Etika Bisnis

        Etika bisnis adalah penerapan secara langsung bertanggungjawab sosial suatu bisnis yang timbul dari pihak internal, dalam hal ini biasanya dari kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin perusahaan. Berikut beberapa hubungan suatu bisnis dalam perusahaan, antara lain :

1) Hubungan antara bisnis dengan konsumen

Hubungan antara bisnis dengan pelanggan/konsumen merupakan hubungan paling dasar dalam suatu bisnis, biasanya mengenai kualitas produk, kemasan, cara berpromosi dan pelayanan jual kepada konsumen.

2) Hubungan dengan karyawan

Hubungan dengan karyawan biasa juga disebut hubungan antara employer dengan employee. Di dalamnya termasuk penerimaan (recruitment), latihan (training), promosi, transfer, demosi maupun pemberhentian atau PHK.

3) Hubungan antar bisnis

Hubungan antar bisnis sebagai pemberian informasi hubungan yang terjadi di antara perusahaan, baik perusahaan kolega, pesaing, penyalur, grosir maupun distributornya.

4) Hubungan dengan investor

Hubungan dengan investor adalah sebagai pemberian informasi yang benar terhadap investor maupun calon investor, sehingga dapat menghindari pengambilan keputusan yang keliru.

5) Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan

Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan, dalam hal ini merupakan yang paling sering berhubungan dengan perusahaan adalah Lembaga Perpajakan yang bersifat financial berkaitan dengan jumlah pajak yang harus dibayar melalui hasil analisa penyusunan laporan keuangan perusahaan.

Bentuk-Bentuk Tanggung Jawab Sosial Suatu Bisnis

         Penjabaran dari kepedulian sosial dari suatu bisnis berbentuk pelaksanaan tanggung jawab sosial bisnis. Sejalan dengan itu dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat kepedulian sosial suatu bisnis maka semakin meningkat pula pelaksanaan praktek bisnis etik masyarakat. Berikut beberapa bentuk pelaksanaan tanggung jawab sosial yang dapat kita temui di Indonesia adalah :

1)    Pelaksanaan Hubungan Industrialis Pancasila (HIP)

Sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang Undang  Dasar 1945.

2)   Dampak Lingkungan (AMDAL)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup disekitarnya.

3)   Prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Penekanan pada faktor keselamatan pekerja dengan mempergunakan alat-alat yang berfungsi menjaga keselamatan, seperti masker pelindung, topi pengaman, dsb.

4)   Perkebunan Inti Rakyat (PIR)

Perkebunan Inti Rakyat adalah sistem perkebunan yang melibatkan perkebunan besar milik negara dan kecil milik masyarakat. Perkebunan besar berfungsi sebagai inti penggerak perkebunan dimana semua bahan bakunya diambil dari perkebunan kecil disekitarnya.

5)   Sistem Bapak Angkat dan Anak Angkat

Sistem ini melibatkan pengusaha besar yang melibatkan pengusaha kecil atau menengah mitra kerja yang harus mereka bina.

RIZKY HERMAWAN

27215731

1EB17

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar