Rabu, 20 Januari 2016

BAB 14 BISNIS INTERNASIONAL

Arti Penting Teori Ekonomi

Para manajer perusahaan harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai teori ekonomi agar dapat memahami strategi pembangunan suatu Negara. Perusahaan yang akan melebarkan sayapnya di dalam perdagangan Internasional memilki kewajiban untuk mempelajari teori-teori ekonomi apa saja yang diterapkan oleh Negara-Negara tersebut, khususnya Negara yang menjadi pangsa pasar atau tujuan dari lingkup bisnis perdagangan perusahaan.

Sejarah Bisnis Internasional

Sebelum Masehi pedagang Venezia dan Yunani mengirim wakil-wakil ke luar negeri untuk menjual barang-barang mereka. Tahun 1600 British East India Company, sebuah perusahaan dagang yang baru dibentuk, mendirikan cabang-cabang di luar negeri di seluruh Asia. Pada saat yang sama sejumlah perusahaan Belanda yang di bentuk pada tahun 1590 membuka rute-rute perjalanan ke timur bergabung untuk membentuk Dutch East India Company dan juga membuka kantor-kantor cabang di Asia. Para pedagang colonial Amerika mulai beroprasi dengan model yang sama pada tahun 1700an.

Contoh-contoh investasi langsung luar negeri Amerika yang mula-mula adalah perkebunan-perkebunan Inggris yang dibentuk oleh Colt Fire Arms and Ford yang didirikan sebelum perang saudara. Namun kedua operasi itu gagal hanya setelah beberapa tahun kemudian.

Perusahaan Amerika pertama yang berhasil memasuki produksi luar negeri adalah pabrik yang didirikan di Skotlandia oleh Singer Sewling Machine pada tahun 1868. Pada tahun 1880, Singer telah menjadi organisasi dunia dengan organisasi penjualan luar negeri yang luar biasa dan beberapa pabrik pemanufakturan di luar negeri. Perusahaan-perusahaan lainnya segera menyusul, dan pada tahun 1914 paling sedikit 37 perusahaan Amerika memiliki fasilitas produksi di dua atau tiga lokasi di luar negeri. Tahun 1919, General Electric mulai menanamkan modal di luar negeri. Tahun 1920, General Motor and Chrysler melakukan operasi luar negeri.

Pengertian Bisnis Internasional

Menurut Rugman dan Hodgetss ”International business is the study of transactions taking place across national borders for the purpose of satisfying the needs of individuals and organizations”.

Menurut Griffin dan Pustay “International business transactions between parties from more than one country is part of international business”.

Menurut Ball dan Wendell “Bisnis internasional merupakan bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas-batas Negara. Definisi ini tidak hanya termasuk Perdagangan Internasional dan pemanufakturan di luar negeri, tetapi juga industri jasa yang berkembang di bidang-bidang seperti transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan, konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar dan komunikasi masa”.

Beberapa Pengertian Bisnis Berdasarkan Ruang Lingkup

1.      Bisnis Domestik yaitu bisnis yang secara nyata ditujukan pada aktivitas bisnis dalam negeri.

2.   Bisnis Internasional yaitu bisnis yang bertindak lebih jauh lagi dari bisnis domestik dan bukan sekedar pemasaran ekspor akan tetapi jauh terlibat dalam lingkungan pemasaran dalam Negara tempat perusahaan tadi melakukan usaha.

3.  Bisnis Multinasional yaitu bisnis yang di mulai dengan memfokuskan pada pemanfaatan pengalaman dan produk perusahaan lalu perusahaan menyadari perbedaan dan keunikan lingkungan dalam Negara tadi dan menentukan peranan baru untuk hal itu sendiri, melakukan adaptasi pemasaran perusahaan pada kebutuhan dan keinginan yang unik dari pelanggan Negara itu.

4.    Bisnis Global atau Transnasional yaitu bisnis yang memfokuskan pada pemanfaatan aset-aset, pengalaman, dan produk perusahaan secara global dan melakukan penyesuaian pada apa yang benar-benar unik berbeda dalam setiap Negara.

Hakikat Bisnis Internasional

Seperti tersebut di atas bahwa Bisnis Internasional merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan melewati batas-batas suatu Negara. Transaksi bisnis seperti ini merupakan transaksi bisnis Internasional. Adapun transaksi bisnis yang dilakukan oleh suatu Negara dengan Negara lain yang sering disebut sebagai Bisnis Internasional (International Trade). Di lain pihak transaksi bisnis itu dilakukan oleh suatu perusahaan dalam suatu Negara dengan perusahaan lain atau individu di Negara lain disebut Pemasaran Internasional atau International Marketing.

Perdagangan Internasional (International Trade)

Dalam hal Perdagangan Internasional yang merupakan transaksi antar Negara itu biasanya dilakukan dengan cara tradisional yaitu dengan cara ekspor dan impor. Dengan adanya transaksi ekspor dan impor tersebut maka akan timbul “Neraca Perdagangan Antar Negara” atau “Balance Of Trade”. Suatu Negara dapat memiliki Surplus Neraca Perdagangan atau Devisit Neraca Perdagangannya.

Neraca Perdagangan yang surplus menunjukan keadaan dimana Negara tersebut memiliki nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan dengan nilai impor yang dilakukan dari Negara partner dagangnya. Dengan neraca perdagangan yang mengalami surplus ini maka apabila keadaan yang lain konstan maka aliran kas masuk ke Negara itu akan lebih besar dengan aliran kas keluarnya ke Negara partner dagangnya tersebut. Besar kecilnya aliran uang kas masuk dan keluar antar Negara tersebut sering disebut sebagai “Neraca Pembayaran” atau “Balance Of Payments”.

Dalam hal ini neraca pembayaran yang mengalami surplus ini sering juga dikatakan bahwa Negara ini mengalami “Pertambahan Devisa Negara”. Sebaliknya apabila Negara itu mengalami devisit neraca perdagangannya maka berarti nilai impornya melebihi nilai ekspor yang dapat dilakukannya dengan Negara lain tersebut.

Teori Perdagangan Internasional

1.      Teori Merkantilisme

Merkantilisme merupakan suatu falsafah ekonomi berdasarkan keyakinan bahwa kemakmuran sebuah Negara bergantung pada harta yang terakumulasi, biasanya emas. Dan untuk meningkatkan kemakmuran, kebijakan Pemerintah hendaknya dapat meningkatkan ekspor dan mengurangi impor.

2.      Teori Keunggulan Absolute

Teori ini mengungkapkan bahwa suatu Bangsa mampu memproduksi suatu barang melebihi Negara lain dengan input yang sama. Adam Smith menyatakan bahwa kekuatan pasar yang seharusnya menentukan arah, volume, dan komposisi perdagangan Internasional. Teori Keunggulan Absolute biasanya di anut oleh Negara-negara yang di anugerahi kekayaan alam yang melimpah.

3.      Teori Keunggulan Komparatif

Teori ini mengungkapkan bahwa sebuah Bangsa yang memiliki kelemahan Absolute dalam memproduksi 2 barang jika dilihat dari sudut pandang Negara lain, ternyata memiliki suatu keunggulan relative atau komparatif dalam memproduksi barang dalam memproduksi barang dimana kelemahan Absolutnya kurang.

4.      Teori Endowment Oleh Heckscher-Ohlin

Teori ini menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan Internasional dan Interregional dalam biaya produksi muncul karena perbedaan dalam pasokan faktor-faktor produksi. Jadi, suatu Negara akan mengekspor barang-barang yang memerlukan sejumlah faktor produksi yang berlimpah, sedangkan akan mengimpor barang-barang yang memerlukan faktor-faktor produksi yang langka.

Alasan Melaksanakan Bisnis Internasional

Suatu Negara ataupun suatu perusahaan melakukan transaksi Bisnis Internasional baik dalam bentuk perdagangan Internasional pada umunya memiliki beberapa pertimbangan ataupun alasan. Pertimbangan tersebut meliputi beberapa alasan atau pertimbangan. Pertimbangan tersebut meliputi pertimbangan ekonomis, politis ataupun sosial budaya bahkan tidak jarang atas dasar pertimbangan militer.

Bisnis Internasional memang tidak dapat dihindarkan karena sebenarnya tidak ada satu Negara pun di dunia yang dapat mencukupi seluruh kebutuhan negerinya dari barang-barang atau produk yang dihasilkan oleh Negara itu sendiri. Tidak ada suatu Negara pun yang dapat memenuhi 100% swasembada. Hal ini disebabkan karena terjadinya penyebaran yang tidak merata dari sumber daya baik dari sumber daya alam modal maupun sumber daya manusia. Ketidakmeratanya sumber daya tersebut akan mengakibatkan adanya keunggulan tertentu baik suatu Negara tertentu yang memiliki sumber daya tertentu pula.

Sebagai contoh Negara Australia yang memiliki daratan yang sangat luas yang memiliki jumlah penduduk yang sangat sedikit, sebaliknya Negara Hong Kong yang memiliki daratan yang sangat sempit tapi jumlah penduduknya yang sangat padat. Kesuburan tanah juga tidak akan sama antara Negara yang satu dengan yang lain ada suatu negeri yang cocok untuk tanaman tertentu sedangkan Negara yang lainnya boleh dikatakan tidak mungkin untuk menanam tanaman yang sangat dibutuhkan oleh manusia itu. Keadaan ini yang menentukan dilaksanakan bisnis ataupun perdagangan Internasional.

Pembangunan Ekonomi

Kategori Berdasarkan Tingkat Pembangunan Ekonomi

1.   Negara Maju (Developed) adalah nama yang diberikan kepada Negara-negara Industri di Eropa 
      Timur, Jepang, Australia, Selandia Baru, Kanada, Israel, dan Amerika Serikat.
2.   Negara Berkembang (Developing) merupakan klasifikasi untuk Negara-negara dengan pendapatan 
      lebih rendah di dunia yang secara teknis kurang berkembang.
3.   Negara-Negara Industri baru (Newly Industrializing Countries) merupakan kategori yang meliputi 
      empat macan Asia (Taiwan, Hong Kong, Singapura dan Korea Selatan), Brasil, Meksiko, dan 
      tiga Negara Industri yang baru muncul (Malaysia, Thailand dan Chili).

Tahap-Tahap Dalam Memasuki Bisnis Internasional

Perusahaan yang memasuki bisnis internasional pada umumnya terlibat atau melibatkan diri secara bertahap dari tahap yang paling sederhana yang tidak mengandung resiko sampai dengan tahap yang paling kompleks dan mengandung risiko bisnis yang sangat tinggi.
Adapun tahap tersebut secara kronologis adalah sebagai berikut :

1. Ekspor Insidentil
2. Ekspor Aktif
3. Penjualan Lisensi
4. Franchising
5. Pemasaran di Luar Negeri
6. Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri

Kekuatan-Kekuatan yang Mendasari Bisnis Internasional

Kekuatan yang mendasari Bisnis Internasional berorientasi pada manajemen oriented. Orientasi adalah asumsi atau keyakinan, yang seringkali tidak disadari, mengenai sifat dunia ini. Dalam hal ini ada tiga orientasi yang menjadi pedoman dalam Bisnis Internasional yaitu etnosentris, polisentris, geosentris yang kemudian diperluas menjadi regiosentris.

1.      Etnosentris adalah suatu asumsi atau keyakinan bahwa negeri asal sendirilah yang unggul. Dalam perusahaan etnosentris, operasi di luar negeri di anggap kurang penting dibandingkan domestik dan terutama dilakukan untuk melempar kelebihan produksi domestik.

2.      Polisentris adalah keyakinan yang didasari bahwa setiap Negara unik dan berbeda serta cara utuh meraih sukses di setiap Negara adalah menyesuaikan diri dengan perbedaan unik dari setiap Negara. Dalam tahap polisentris, anak perusahaan didirikan di pasar luar negeri. Setiap anak perusahaan bekerja secara independen dan menetapkan tujuan dan rencana pemasaran sendiri. Pemasaran diorganisasikan dengan dasar antar Negara, dengan setiap Negara mempunyai kebijakan pemasaran unik sendiri.

3.      Regiosentris dan Geosentris adalah perusahaan memandang wilayah regional dan seluruh dunia sebagai suatu pasar dan mencoba mengembangkan strategi pemasaran terpadu regional atau dunia. Regiosentris merupakan orientasi geosentris yang terbatas pada suatu wilayah regional artinya manajemen harus mempunyai suatu pandangan dunia ke arah wilayah regional, tapi akan memandang sisa dunia dengan orientasi etnosentris atau polisentris, atau kombinasi keduanya.

Bidang Kegiatan Bisnis Internasional

1.    Lingkungan Domestik, termasuk sosio ekonomi, sosio kultural, politik, hukum, pemerintahan, 
      persaingan, fisik, tenaga kerja, keuangan dan teknologi.

2.    Lingkungan Luar Negeri, termasuk sosio ekonomi, sosio kultural, politik, tenaga kerja, keuangan, 
      teknologi dan lingkungan ekonomi.

Faktor Pendorong

Faktor-faktor yang menyebabkan suatu negara melakukan Perdagangan Internasional adalah :

1.      Dalam rangka memenuhi kebutuhan barang dan jasa.
2.      Untuk mendapatkan keuntungan serta meningkatkan pendapatan Negara.
3.      Terdapat perbedaan kualitas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengolah sumber 
        daya ekonomi.
4.      Terjadi kelebihan produk di dalam negeri sehingga diperlukan market baru untuk memasarkan 
        produk tersebut.
5.      Sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang tidak sama di setiap 
        negara sehingga terjadi perbedaan hasil produksi serta adanya keterbatasan produksi.
6.      Adanya permintaan barang yang sama atau selera yang sama.
7.      Adanya keinginan kerja sama antarnegara.
8.      Lahirnya era globalisasi.

Ruang Lingkup Bisnis Internasional

1.      Tujuan

a)    Perluasan Penjualan (Sales Expansion), yaitu untuk barang-barang yang tidak mudah rusak perlu perluasan penjualan (market area). Misalnya : Barang-barang kerajinan tangan.

b)   Mendekati Sumber (Resource Acquistion), resource-nya antara lain Man, Money, Machine, Materials, Methode, Market. Yang mencakup sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya kapital (SDK).

c)  Penganekaragaman (Diversifikasi), penjualan produk disesuaikan dengan segmen pasar (selera, daya beli, atau fungsi barang). Misalnya, mobil Kijang dijual di Indonesia.

d)    Alih Teknologi, hanya untuk developing country (Negara berkembang)

2.      Faktor yang menunjang Bisnis Internasional

a)   Ilmu Hukum

Menurut sejarah perdagangan di Indonesia sebelum tahun 1967 perdagangan Internasional sangat minim dan setelah 1967 perdagangan baru mulai meningkat karena sudah ada Undang-Undang P.M.A No. 1 Tahun 1967 yang mengatur tentang investasi pemilik modal asing, kemudian disusul dengan kebijakan pemerintah berupa Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1995 yang mengatur hak guna, hak sewa, dan hak pakai bagi investor asing sampai 100 tahun untuk pengembalian modalnya.

b)   Ilmu Sejarah

Bisa ditinjau dari bangsa atau keturunan, misalnya : Inggris mengutamakan Negara-Negara persemakmuran untuk investasi daripada Negara lain. Indonesia cenderung ke Suriname.

c)   Ilmu Geografi

Ditinjau dari jauh dekatnya jarak atau sebaliknya ditinjau pada tujuannya dengan melihat kondisi geografi Negara tujuan.

d)   Ilmu Kebudayaan

Tujuan faktor pengaruh, misalnya Budaya Indonesia baik orang atau pekerjaan yang terkesan malas, suka kendaraan besar (station-wagon) dan lain sebagainya.

e)   Ilmu Ekonomi

Ditinjau dari kondisi perekonomian dan GNP. Misalnya :
Negara Maju (Develoved Country) GNP > (lebih besar dari) – US $ 10.000
Negara Berkembang (Developping Country) GNP < (lebih kecil dari) – US $ 8.000
Sistem Ekonomi Sosialis – Centrally Planned Economic, contohnya Negara Rusia, Korea Utara, Kuba.
Sistem Ekonomi Kapitalis – Market Economy

f)     Ilmu Politik

Hubungan Politik dengan Negara-Negara lain akan menjalin lancarnya bisnis/perdagangan internasional. Pemahaman terhadap sistem politik, misalnya besar kecilnya pengaruh militer, partai politik yang dominan peran pemerintah terhadap sektor swasta dan lain sebagainnya.

3.      Sarana Operasional (Aktivitas-Aktivitas Bisnis Internasional)

a)  Impor, adalah membeli produk-produk yang dibuat di negara-negara lain untuk dijual atau digunakan kembali di negara sendiri seseorang.

b) Ekspor, adalah menjual produk-produk yang dibuat di negara sendiri seseorang untuk digunakan atau dijual kembali di negara-negara lain.

c)  Transportasi/Pariwisata, adalah pelayanan angkutan dan penyediaan objek-objek pariwisata adalah sebagian bisnis internasional khususnya yang ditujukan untuk menjaring wisatawan asing.

d)   Investasi Langsung, adalah sebagai penanaman modal yang dilakukan dengan membangun pabrik-pabrik serta menghasilkan produk-produk.

Teori Investasi Internasional

Teori-Teori Investasi Langsung Luar Negeri Kontemporer :

1.    Teori Keunggulan Monopolistik

Teori ini berasal dari Stephen Hymer tahun 1960-an yang menunjukkan bahwa investasi langsung luar negeri lebih banyak terjadi dalam industri-industri oligopolistik daripada dalam industri-industri yang beroperasi dalam persaingan hampir sempurna. Ini berarti perusahaan-perusahaan dalam industri ini harus memiliki keunggulan yang tidak dapat diperoleh perusahaan-perusahaan lokal.

2.    Ketidaksempurnaan Pasar Produk dan Faktor Produksi

Caves adalah seorang ahli ekonomi Harvard memperluas karya Hymer untuk menunjukkan bahwa pengetahuan unggul memungkinkan perusahaan yang melakukan investasi untuk memproduksi berbagai produk yang lebih disukai konsumen daripada barang-barang yang sama buatan lokal dan dengan demikian akan memberikan kepada perusahaan itu beberapa kendali untuk harga jual dan keunggulan atas perusahaan-perusahaan pribumi.

3.    Daur Hidup Produk Internasional

Konsep IPLC menjelaskan investasi langsung luar negeri sebagai tahap alamiah dalam kehidupan suatu produk. Untuk menghindari kehilangan pasar yang dilayaninya melalui ekspor, sebuah perusahaan di paksa untuk menanamkan modal dalam sarana produksi di luar negeri ketika perusahaan-perusahaan lain mulai menawarkan produk-produk yang sama.

4.    Teori-Teori Lain

a)      Teori Ikut Sang Pemimpin (follow the leader theory)

Sebuah teori lain dikembangkan oleh Knickerbocker yang mengemukakan bahwa apabila sebuah perusahaan khususnya yang memimpin dalam oligopolistik memasuki sebuah pasar,  maka perusahaan-perusahaan lain dalam industri itu mengikutinya. Teori ini di anggap defensif karena para pesaing melakukan investasi untuk menghindari kehilangan pasar yang dilayani dengan ekspor ketika investor pertama memulai produksi lokal.

Mereka juga mungkin takut pemrakarsa itu akan mencapai beberapa  keunggulan dengan melakukan diversifikasi risiko yang tidak ingin mereka derita kecuali mereka juga memasuki pasar itu. Selain itu, dengan menduga pemrakarsa itu mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, mereka mungkin merasa lebih baik menyelamatkan diri daripada menyesal nantinya.

b)     Teori Internalisasi

Teori Internalisasi merupakan pengembangan teori ketidak-sempurnaan pasar. Sebuah perusahaan memiliki pengetahuan unggul, tetapi ia dapat memperoleh harga yang lebih tinggi untuk pengetahuan itu dengan cara menggunakannya daripada menjualnya di pasar terbuka. Dengan melakukan investasi di anak perusahaan luar negeri ketimbang memberikan lisensi, perusahaan itu mampu mengirim pengetahuannya melewati batas negara, sementara tetap mempertahankannya di dalam perusahaan dengan harapan dapat mewujudkan hasil yang lebih baik atas investasi yang dilakukan untuk memproduksinya.

c)      Teori Aliber

Aliber percaya ketidaksempurnaan dalam pasar valuta asing munkin menyebabkan investasi asing. Perusahaan-perusahaan di negara-negara dengan mata uang yang nia\lainya terlalu tinggi (overvalued) tertarik untuk menanamkan modal di negara-negara yang mata uangnya nilainya terlalu rendah (undervalued).

d)     Teori Portofolio

Teori ini menyatakan bahwa operasi-operasi Internasional memungkinkan di versifikasi risiko dan karenanya cenderung memaksimalkan laba investasi yang diharapkan.

Manfaat Perdagangan Internasional

Banyak sekali manfaat Perdagangan Internasional yang dirasakan oleh setiap Negara, yaitu :

1.      Setiap Negara akan mendapatkan barang yang tidak ada atau tidak di produksi di negeri sendiri, 
        dengan demikian, Negara tersebut dapat memenuhi kebutuhannya.
2.      Suatu Negara akan mendapat keuntungan dari spesialisasi.
3.      Suatu Negara dapat memperluas pasar dan meningkatkan keuntungan.
4.      Transfer teknologi modern. Setiap Negara dapat mempelajari teknik produksi yang lebih efisien 
        serta manajemen yang lebih modern.

RIZKY HERMAWAN

27215731

1EB17

SUMBER : 

Kamis, 14 Januari 2016

BAB 13 TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS


Masalah lain yang juga perlu diperhatikan bagi tiap perusahaan selain masalah etika bisnis adalah mengenai tanggung jawab sosial. Griffin dan Ebert (2002) menyatakan, tanggung jawab sosial adalah usaha suatu bisnis untuk menyeimbangkan komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungannya, termasuk konsumen, bisnis lain/pesaing, karyawan dan investor. Sedangkan Bone dan Kurtz (2000) menyatakan, tanggung jawab sosial merupakan penerimaan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan, dan kesejahteraan sosial sebagai nilai sepadan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial lebih berkaitan dengan cara suatu bisnis bertindak terhadap kelompok dan pribadi lainnya dalam lingkungan sosialnya. Pada kenyataannya tanggung jawab sosial merupakan suatu usaha untuk mengimbangi komitmen yang berbeda. Misalnya, untuk bertindak secara bertanggung jawab terhadap investor, perusahaan perlu memaksimalkan profitnya. Namun, perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk menawarkan produk yang aman dan memuaskan konsumennya sebagai suatu komitmen yang dapat menaikkan biaya produksi atau menurunkan profitnya.

Secara keseluruhan tanggung jawab sosial mencerminkan etika perorangan yang diterapkan oleh perusahaan terutama manajemen puncaknya, walau tidak menutup kemungkinan tanggung jawab sosial dapat di dorong oleh lembaga pemerintahan, konsumen, investor dan oleh perilaku perusahaan lain/pesaing. Namun demikian, banyak perusahaan yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya terhadap stakeholder-nya (individu atau kelompok sangat terkait langsung terhadap kinerja perusahaan).

Konsumen. Bisnis bertanggung jawab pada konsumennya dengan menjaga kejujuran dan keterbukaannya. Mereka juga mencoba menetapkan harga yang wajar, garansi, memenuhi komitmen, dan menjaga kualitas produk yang mereka jual.

Karyawan. Bisnis bertanggung jawab sosial di dalam kesepakatan mereka dengan mempekerjakan karyawan dengan wajar, membuat karyawan menjadi bagian dari tim, dan menghargai martabat dan kebutuhan manusiawinya.

Investor. Untuk menjaga tanggung jawab sosial terhadap investor, manajer harus mengikuti prosedur akuntansi yang benar, menyediakan informasi yang tepat pada pemegang saham mengenai kinerja keuangan, dan mengelola organisasi untuk melindungi hak pemegang saham dan investasi.

Pemasok. Hubungan dengan pemasok harus dikelola dengan baik. Banyak perusahaan kini menyadari pentingnya kerja sama saling menguntungkan dengan pemasok sehingga mereka melakukan kontrak pembelian dengan negosiasi harga.

Benturan Dengan Kepentingan Masyarakat

Di dalam menjalankan tugasnya memproduksi barang atau jasa untuk disajikan kepada konsumen tidak jarang terjadi konflik kepentingan masyarakat umum dengan perusahaan. Bentrokan kepentingan ini sering terjadi terutama dalam hal timbulnya polusi oleh perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Polusi ini dapat berupa polusi udara, limbah, suara, dan bahkan polusi mental kejiwaan.

Sebagai contoh dari hal polusi mental kejiwaan dapat ditujukan dari adanya larangan pemerintah terhadap penyiaran iklan atau advertensi di TVRI sejak tahun 1980-an. Tindakan pemerintah itu merupakan penyelesaian konflik yang terjadi antara bisnisman yang ingin menayangkan iklannya lewat TV dengan kepentingan mental kejiwaan masyarakat yang merasa sangat terganggu oleh siaran iklan di TVRI yang sangat mendorong pola konsumtif serta penggunaan obat-obatan yang kurang tepat dan lain sebagainnya.

Tanggung jawab sosial suatu bisnis juga tercermin dari dituntutnya ganti rugi yang cukup besar oleh masyarakat sekitar pabrik yang menjadi korban atas meledaknya tangki nuklir dari suatu pabrik Gas UNION CARBITE di Bopal, India, pada tahun 1986. Anjuran Bapak Presiden Soeharto dalam tahun 1990 kepada para konglomerat Indonesia yang telah menikmati lebih banyak hasil-hasil pembangunan untuk membagikan sebagian sahamnya kepada Koperasi, adalah juga merupakan pencerminan dari penjabaran tanggung jawab sosial suatu bisnis.

Dari uraian di atas dapatlah kita tangkap bahwa tanggung jawab sosial suatu bisnis, menjadi suatu topic yang cukup menonjol. Bisnisman dituntut untuk lebih banyak memperhatikan aspek-aspek sosial dan menerapkan etika bisnis secara jujur. Konflik kepentingan bisnis dengan masyarakat akan selalu muncul dan kadang sulit untuk menyelesaikannya. Apabila konflik mencapai jalan buntu maka biasanya masyarakat akan menggunakan tangan pemerintah sebagai penengah. Hal itu yang akan melatarbelakangi ketentuan pemerintah untuk mewajibkan pengusaha yang akan mendirikan pabrik harus mendapatkan Izin HO (Hinder Orgonasie) agar dapat dicegah adanya konflik dikemudian hari.

Area Tanggung Jawab Sosial

Pada saat mendefinisikan permasalahan atau rasa tanggung jawab sosial, suatu perusahaan akan menghadapi 4 hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

     1.    Tanggung jawab ke depan terhadap lingkungannya

Dengan meminimalkan polusi udara yang disebabkan oleh produksi perusahaannya, mencakup polusi udara, misalnya dengan menggunakan penghisap zat-zat beracun pada asap yang dikeluarkan dari produksi, polusi air dengan membuat penampungan limbah yang menyerap zat-zat berbahaya sebelum dialirkan ke aliran sungai, dan polusi tanah dengan meminimalkan sampah yang dikeluarkan dengan menggunakan bahan-bahan yang dapat di daur ulang.

    2.   Tanggung jawab ke depan terhadap konsumennya

Dengan menyediakan produk yang berkualitas dengan harga yang sesuai. Konsumen memiliki hak untuk memperoleh produk yang aman, memperoleh informasi mengenai produk yang digunakan, hak untuk didengarkan dan hak untuk memilih apa yang hendak dibeli. Tanggung jawab perusahaan terhadap konsumennya juga termasuk dengan memperhatikan etika dalam beriklan, antara lain dengan tidak membuat janji-janji tentang sebuah produk yang tidak ditepati oleh perusahaan.

     3.    Tanggung jawab ke depan terhadap karyawannya

Dengan melakukan berbagai aktivitas, seperti rekrutmen, pelatihan, promosi dan kompensasi sesuai dengan hak-hak yang harus diperoleh karyawan.

     4.    Tanggung jawab ke depan terhadap investornya

Dengan memberikan laporan keuangan dengan jujur dan sesuai keadaan, tidak memberikan informasi kepada investor-investor tertentu saja, dan memberikan laporan keuangan sesuai dengan aturan dalam laporan keuangan yang berlaku.

Pendekatan-Pendekatan Terhadap Tanggung Jawab Sosial

Terdapat 4 tahapan yang perusahaan dapat ambil dalam memenuhi kewajiban tanggung jawab sosialnya dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi. Dapat diketahui empat macam pendekatan terhadap tanggung jawab sosial adalah sebagai berikut :

     1.   Obstructionist stance 

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial, meliputi melakukan seminimal mungkin dan mungkin meliputi usaha untuk mengingkari atau menutupi pelanggaran.

     2.   Defensive stance

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan hanya memenuhi kebutuhan legal minimum dalam komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

     3.   Accommodative stance

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan, jika secara khusus diminta, melebihi kebutuhan legal minimum dalam komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

     4.   Proactive stance

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang mana suatu perusahaan secara aktif mencari peluang untuk berkontribusi dalam kebaikan kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.

Mengelola Program Tanggung Jawab Sosial

Membuat sebuah perusahaan bertanggung jawab sosial secara penuh pada pendekatan tanggung jawab di atas memerlukan program yang diorganisasikan. Secara umum, manajer harus melakukan hal-hal berikut ini :

a. Tanggung jawab sosial harus dimulai dari tingkatan manajemen puncak, karena tanpa dukungan dari manajemen puncak tidak akan program yang berjalan sukses.
b.  Sebuah komite atau panitia yang terdiri dari manajer-manajer puncak harus mengembangkan sebuah rencana yang merinci tingkat dukungan manajemen.
c. Seorang eksekutif atau seorang manajer perusahaan harus bertanggung jawab dalam pengimplementasian program yang telah direncanakan.
d. Terakhir perusahaan harus melakukan audit sosial, yaitu analisis sistematis mengenai penggunaan dana dan pencapaiannya terhadap tujuan tanggung jawab sosialnya.

Dorongan Tanggung Jawab Sosial

       Klasifikasi aspek pendorong tanggung jawab social dalam menunaikan tanggung jawab social, perusahaan dituntut untuk mengindahkan etika bisnis. Hal-hal pendorong dilaksanakannya etika bisnis :

1.   Dorongan dari pihak luar, dari lingkungan masyarakat
2.   Dorongan dari dalam bisnis itu sendiri, sisi humanism pembisnis yang melibatkan rasa, karsa dan karya

Manfaat penerapan manajemen orientasi kemanusiaan :

1.   Peningkatan moral kerja karyawan yang berakibat membaiknya semangat dan produktivitas kerja.
2.   Adanya partisipasi dengan bawahan dan adanya timbul rasa ikut memiliki sehingga tercipta kondisi manajemen partisipasif
3.  Penurunan absen karyawan yang disebabkan kenyamanan kerja sebagai hasil hubungan antara kerja yang menyenangkan dan baik
4.    Peningkatan mutu produksi yang diadakan oleh terbentuknya rasa percaya diri karyawan
5. Kepercayaan kepada konsumen yang dapat meningkatkan dan merupakan dasar bagi perkembangan selanjutnya dari perusahaan

Etika Bisnis

        Etika bisnis adalah penerapan secara langsung bertanggungjawab sosial suatu bisnis yang timbul dari pihak internal, dalam hal ini biasanya dari kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin perusahaan. Berikut beberapa hubungan suatu bisnis dalam perusahaan, antara lain :

1) Hubungan antara bisnis dengan konsumen

Hubungan antara bisnis dengan pelanggan/konsumen merupakan hubungan paling dasar dalam suatu bisnis, biasanya mengenai kualitas produk, kemasan, cara berpromosi dan pelayanan jual kepada konsumen.

2) Hubungan dengan karyawan

Hubungan dengan karyawan biasa juga disebut hubungan antara employer dengan employee. Di dalamnya termasuk penerimaan (recruitment), latihan (training), promosi, transfer, demosi maupun pemberhentian atau PHK.

3) Hubungan antar bisnis

Hubungan antar bisnis sebagai pemberian informasi hubungan yang terjadi di antara perusahaan, baik perusahaan kolega, pesaing, penyalur, grosir maupun distributornya.

4) Hubungan dengan investor

Hubungan dengan investor adalah sebagai pemberian informasi yang benar terhadap investor maupun calon investor, sehingga dapat menghindari pengambilan keputusan yang keliru.

5) Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan

Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan, dalam hal ini merupakan yang paling sering berhubungan dengan perusahaan adalah Lembaga Perpajakan yang bersifat financial berkaitan dengan jumlah pajak yang harus dibayar melalui hasil analisa penyusunan laporan keuangan perusahaan.

Bentuk-Bentuk Tanggung Jawab Sosial Suatu Bisnis

         Penjabaran dari kepedulian sosial dari suatu bisnis berbentuk pelaksanaan tanggung jawab sosial bisnis. Sejalan dengan itu dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat kepedulian sosial suatu bisnis maka semakin meningkat pula pelaksanaan praktek bisnis etik masyarakat. Berikut beberapa bentuk pelaksanaan tanggung jawab sosial yang dapat kita temui di Indonesia adalah :

1)    Pelaksanaan Hubungan Industrialis Pancasila (HIP)

Sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang Undang  Dasar 1945.

2)   Dampak Lingkungan (AMDAL)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup disekitarnya.

3)   Prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Penekanan pada faktor keselamatan pekerja dengan mempergunakan alat-alat yang berfungsi menjaga keselamatan, seperti masker pelindung, topi pengaman, dsb.

4)   Perkebunan Inti Rakyat (PIR)

Perkebunan Inti Rakyat adalah sistem perkebunan yang melibatkan perkebunan besar milik negara dan kecil milik masyarakat. Perkebunan besar berfungsi sebagai inti penggerak perkebunan dimana semua bahan bakunya diambil dari perkebunan kecil disekitarnya.

5)   Sistem Bapak Angkat dan Anak Angkat

Sistem ini melibatkan pengusaha besar yang melibatkan pengusaha kecil atau menengah mitra kerja yang harus mereka bina.

RIZKY HERMAWAN

27215731

1EB17

Sumber :